Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

 

Monday, October 13, 2008

Gossip is special

Tatapan matanya yang berbinar indah selalu memaksa saya untuk memuji keagungan Tuhan. Tapi tidak untuk sore itu. Tatapan itu lagi berbinar penuh tenaga, tapi lebih menyiratkan aura keletihan. Meski pelan saya mendengar helaan berat berhembus dari hidungnya. Teman saya ini memang tengah berhadapan dengan masalah yang akut. Keceriaan remaja yang biasanya mengaurai pertemanan kami, sore itu juga tak hadir, ia absen tanpa izin entah kemana. Pelataran yang di penuhi riuh rendah suara orang juga tak banyak membantu membuat otot-otot wajahnya menyemburatkan senyum dalam waktu yang lama. Kalaupun sempat otot-otot wajahnya membentuk simpul itupun hanya dalam hitungan detik sebelum kembali ke posisi semula: lelah, dingin tanpa ekspresi.

Sore itu dipelataran yang penuh sesak lalu lalang orang. Sementara kami sedang berbagi tugas sebagai komitmen dari kesungguhan pertemanan. Ia bercerita dan saya mendengarkan sambil pura-pura membaca koran. Diam-diam saya tersenyum sendiri ketika menyadari gaya saya membaca koran mirip sekali dengan gaya film drama 80-an. Dimana orang tua yang bijak dan sok tau selalu digambarkan dalam posisi membaca koran sementara sang anak bercerita disampingnya. Satu-satunya yang membedakan adalah saya belum mandi di sore itu.

"Saya lelah", katanya memulai perbincangan kami. Tak lama berselang dengan suara yang rendah dan konstan ia lalu bercerita masalah besar yang tengah dihadapinya. Sebuah fitnah rasa keji (dimana-dimana fitnah rasa keji… emang roti rasa keju) dilontarkan kepadanya. Parahnya fitnah dan gosip itu secara terbuka telah memasuki organ-organ vital dalam wilayah kehidupan sosialnya. Tak cukup sampai disitu fitnah bin gosip itu juga telah menggerogoti rasa percaya orang-orang terdekatnya. Tak sedikit orang-orang dekatnya yang mulai mengkonfirmasi kebenaran fitnah itu, mulai dari cara yang halus hingga cenderung menuduh menyudutkan. Sayangnya kawan saya ini bukanlah seorang selebritis, makanya ia tak memiliki kemampuan yang cukup untuk memproteksi dirinya dengan kalimat sakti no comment, sebaliknya ia terpaksa harus meladeni satu persatu konfirmasi dengan hati yang terluka.

"Hari-hari saya benar-benar melelahkan, sampai-sampai saya tak bisa membedakan lagi antara
tertawa dan menangis" akunya dengan nada yang datar. Mendengar pernyataannya yang agak berbau sinetron itu saya tertawa meskipun berasa garing, lalu bertanya pendek padanya. "Kalau ini ketawa atau menangis?" tanya saya. Tiba-tiba ia ikut tertawa. Berhasil! Setidaknya tawanya yang sempat lepas beberapa saat membuat suasana sedikit berubah persis iklan Lucu yang memotong durasi sinetron Indonesia yang membosankan dan tidak bermutu. "Kamu lebay, buktinya kamu masih bisa membedakan tertawa dan menangis," kata saya setengah bercanda diantara deraian tawa kami.

"Masalah kamu memang cukup serius, Tata surya kehidupan kamu semua telah dimasuki oleh masalah kamu,mulai dari tempat kerja, rumah hingga pergaulan sosial" kata saya sok memberikan peta masalah kepadanya. Karena kata Psikolog kondang John Gray. "Jika kamu mendengarkan masalah orang lain jadilah cermin yang membantu ia untuk lebih mengetahui masalahnya, dengan mencoba empati padanya" begitu kira-kira simpulan yang saya tangkap dari buku-buku si Oom Gray.

Jam 5 lewat 5 kami berpisah ia pergi masih dengan wajah yang lelah. "Mau pulang tidur" katanya pendek. Dan saya hanya bisa mengiringi kepergiannya dengan tatapan plus wajah yang prihatin kalau tidak bisa dibilang ikut-ikutan ngantuk karena belum mandi. Sorry kawan saya tak bisa banyak membantu.
***
Diterpa gosip miring atawa fitnah memang tidak mengenakkan. Ada reputasi diri dan orang dilingkungan sekitar yang ikut terkena imbas. Itulah sebabnya Tuhan menyebutkan Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Karena memang Fitnah membunuh karakter orang hidup-hidup, dan bisa menyebabkan orang yang di fitnah mengalami kematian harga diri, bahkan kematian kredibilitas.
Itulah sebabnya fitnah adalah sesuatu yang sangat spesial. Kenapa spesial? Karena pake telor… he he sorry ding. Karena fitnah itu hanya dilakukan oleh orang-orang spesial.Siapa mereka? yaitu orang-orang yang tega memakan bangkai saudaranya dalam keadaan hidup. Ngeri ga' tuh?. Sadis mana dengan lagunya Afghan? Tapi memang begitulah Tuhan menggambarkan kesadisan tukang fitnah dalam Kitab suci AlQuran.
Tapi tau ga' seeh? (tolong dilafalkan dengan gaya ABG yang kental dengan sedikit memonyongkan bibir. ya begitu!) Kalau fitnah itu juga hanya terkena ke orang-orang yang spesial pula. Nabi Muhammad Saw misalnya beliau pernah difitnah sebagai tukang sihir, dukun bahkan orang gila. Tapi toh waktu juga membuktikan bahwa beliau tak seperti yang dituduhkan. Dan masih banyak lagi contoh yang lainnya.
Lalu bagaimana cara melawan fitnah?. Menurut saya fitnah itu hanya bisa dilawan dengan doa dan pembuktian. Doa adalah permohonan bantuan kepadaNya agar di bersamaiNya dalam keindahan kesabaran dan ketegaran. Dan biasanya doa bekerja dengan cara yang unik. Sebab Tuhan tempat kita meminta punya bermilyar-milyar cara untuk menghentikan fitnah. Cara yang mungkin paling sederhana adalah menghentikan penyebaran fitnah dengan menghapusnya dalam daftar pembicaraan yang lagi happening dikalangan para gossiper.
Sementara pembuktian adalah hari esok yang akan membuktikan bahwa fitnah itu memang tak pernah terjadi. Kata orang arab Waktu adalah bagian dari penyelesaian.
Tapi kalau saya yang difitnah… akan saya datangi mereka satu persatu, lalu saya tangkap kerah bajunya dan dengan wajah bengis layaknya Willem Dafoe saya berkata "Mau kamu apa seeh…!" Eh… maaf… maaf saya kebawa emosi. Ingat!!! Don’t try this at home.

Labels:

Baca lanjutannya !

Links to this post:

Create a Link

<< Home