Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

 

Tuesday, September 25, 2007

Hati patah kawan saya


Bulan ramadhan… tapi, dua tahun yang lalu.

Seorang kawan karib saya datang kerumah dengan membawa setumpuk kemarahan, sekarung kebencian dan sekantung putus asa. --Maaf saya memilih menggunakan ukuran-ukuran hiperbolik ini karena saya tidak tahu apa ukuran yang pas untuk mewakili benda-benda itu.—Ia marah dan menumpahkan pada saya, padahal saya bukan penyebab kemarahannya. Ia menumpahkan kebencian pada saya, padahal bukan saya pula penyebab kebencian itu. Ia menumpahkan kecewa pada saya, padahal bukan saya juga penyebab ia kecewa. Tapi sebagai orang yang sedang belajar bersabar. Saya mencoba mendengarkannya dengan ikhlas.

Ia rupanya sedang patah hati. Perempuan yang dicintai menikah dengan orang lain, jangankan memberikan undangan. Alasanpun tak sempat diberikan. Persis TENDA BIRU lagu hitsnya Teh Desy Ratnasari. Ayo nyanyi sama-sama!! 1,2,3,
"Tanpa undangan diriku kau lupakan,
tanpa putusan diriku kau tinggalkan,
tanpa bicara… "
Stop-stop suaranya pada fales semua!!! Ntar kalo ketahuan teh Desy nanti kita dimarahin karena telah merusak lagunya… he... he...

Kembali ke cerita teman saya. Intinya teman saya itu kecewa… bla… bla... tak usah dijelaskan yah intinya sekali lagi teman saya kecewa. Dan ketika teman saya itu kecewa, ia memilih mendatangi saya. Karena kebetulan selain saya juga dekat dengannya, saya juga kenal lumayan dekat dengan pacarnya itu.

Sayangnya saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk memperbaiki hubungan mereka. Lagi pula secara usia mereka sudah terlalu tua untuk dimediasi soal cinta. Biarlah mereka bicara dari hati ke hati dengan hati-hati sampai sama-sama patah hati.

Tapi tahukah anda berapa lama waktu yang digunakan teman saya dan saya sendiri untuk melakukan episode curhat ini?. Tidak tahukan ? Pantas, kan saya belum beri tahu. Lebih dari 20 hari atau mungkin sebulan. Itu artinya setiap malam saya harus begadang menemaninya curhat sampai menjelang sahur.

Tapi tahukah anda, apa nasihat yang saya berikan kepada teman saya? Tidak tahukan? Pantas, kan belum saya beri tahu. Saya hanya mengulang kata-kata ini yang sering saya dengar dari Bapak saya ketika kecil dulu. "Apa yang terjadi pada kita hari ini adalah yang terbaik menurut Allah buat kita". Saya lupa kapan persisnya dan pada moment apa Bapak saya mengucapkan kalimat bijak itu. Saya lupa juga menanyakan ia mengutip dari mana kalimat itu. Tapi menurut saya, hal yang paling bisa kita lakukan buat orang yang lagi patah hati, selain mendengarkan tentulah menghiburnya. Dan lagi pula kata-kata yang saya gunakan itu adalah kata-kata yang mujarab buktinya dalam sebulan teman saya bisa berangsur pulih dari patah hatinya.

Beberapa hari kemarin diawal ramadhan kawan saya ini membayari belanjaan saya di Swalayan saat kami ngabuburit bareng. Saya tak lagi melihat aura raut merona patah hati di wajahnya. Ia lebih ceria. Memang peristiwa itu sudah dua tahun berlalu. Meskipun kini ia juga belum menemukan kekasih yang baru. Tapi saya yakin hidupnya lebih bahagia. Setidaknya ia sudah membahagiakan saya dengan mentraktir saya…

Tapi tahukah anda, apa pesan yang saya ingin sampaikan pada anda? Kalau masih tidak tahu berarti anda keterlaluan. Tapi biarpun anda keterlaluan tapi saya akan mencoba menjelaskan pesan yang saya maksud. Yang saya maksud adalah bahwa "hidup ini sesungguhnya terus berjalan, sesulit atau seindah apapun. Maka bersabarlah dan berbaik sangkalah kepada Allah, Toh Allah telah mempersiapkan yang terbaik buat kita". Bagaimana setuju dengan pendapat saya? Kalau tidak silahkan buat pendapat sendiri, tidak apa-apa kok…!!![]

Alhamdulillah, Akhirnya setelah lama gak posting akhirnya bisa nulis lagi di blog ini…Catatan foto di atas tidak ada hubungannya dengan tulisan ini.Itu adalah keisengan yang disengaja belaka

Labels:

Baca lanjutannya !

Links to this post:

Create a Link

<< Home